Top Banner Advertisement
  • Small Discription For Image - 1.

  • Small Discription For Image - 2.

  • Small Discription For Image - 3.

  • Small Discription For Image - 4.

New Post

Rss

Tampilkan postingan dengan label Lokal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lokal. Tampilkan semua postingan
Selasa, 11 Maret 2014
Gebrakan Kades Karangjati Ngawi , Spektakuler !

Gebrakan Kades Karangjati Ngawi , Spektakuler !


REPUBLIKTI – Salah satu desa di Kecamatan Karangjati, Kabupaten Ngawi mencoba berbenah di segala sektor. Mulai bidang tatanan pemerintahan, kelembagaan, kemasyarakatan, hingga pembangunan infrastruktur, yakni Desa Karangjati.

Di bawah pimpin Sumini selaku Kepala Desa sejak Juli 2013 lalu, desa yang memilki dua dusun itu kian berbinar di mata warganya. Sesuai nadzarnya (janji,red), dalam pencalonannya sebagai kepala desa Sumini berjanji akan membangun Desa Karangjati dan menyerahkan separo tanah bengkok yang menjadi haknya kepada masyarakat.

“Janji telah ditepati, dan itu bukanlah isapan jempol. Separo tanah garapan yang menjadi hak kepala desa telah dilelang ke warga, uangnya sekitar 60 juta rupiah yang dipergunakan untuk membantu masjid, yatim piatu, kegiatan RT, dan lainnya,” terang warga setempat.

Keterangan serupa dipaparkan Priyanto salah satu anggota LPMD Desa Karangjati. Sisa dari tanah bengkok yang telah diserahkan ke warga, lanjutnya Priyanto, juga dijual tahunan ke warga secara bergilir dengan pembayaran setelah panen.

“Bukan itu saja, Bu Kades bersama suaminya (Budi) telah bertekad untuk mensejahterakan warganya. Di bidang pembangunan, Pak Budi (suami kades,red) saat ini sedang melakukan pengurugkan jalan persawahan sepanjang hampir 2.500 meter dengan biaya sendiri,” imbuh Priyanto saat meninjau kerja bhakti warga Dusun Mbangon, Kamis (27/02/2014).

Di bidang tatanan pemerintahan, kades yang belum genap setahun menjabat ini juga melakukan gebrakan bersama eleman Pemerintahan Desa Karangjati lainnya dengan menerbitkan Peraturan Desa (Perdes) yang mengedepankan kemakmuran warganya.
Sementara itu Budi, suami Kades Karangjati saat ditemui di lokasi kerja bhakti menegaskan, bahwa langkah yang diambil itu murni dengan keikhlasan untuk membantu sekaligus sebagai wujud kepedulian demi kemajuan warga masyarakat Desa Karangjati.

“Dari awal pencalonan kepala desa, kami telah bertekad untuk membuat Desa Karangjati lebih maju dan warga masyarakat lebih sejahtera. Hidup kita akan lebih bermutu juga bermanfaat bila kita mampu membantu dan hidup berdampingan, sebagai pemimpin harus bisa mengerti apa kehendak yang dipimpin,” terang Budi.

Acungan jempol dari pemerhati sosial, Mito Hadi. Menurutnya sosok dan peringai seperti Kades Karangjati ini teramat jarang dijumpai di negri ini. Untuk menjadi pejabat / perangkat tentu tidak lah sedikit biaya yang harus dikeluarkan. Tidak berlebihan bila Kades Karangjati disebut Kades Spektakuler.

“Untuk bisa duduk sebagai pejabat, baik itu PNS maupun Perangkat Desa di alam demokrasi yang menganut ‘model matrialistik’ seperti Indonesia tentu butuh biaya yang sangat besar. Ujung-ujungnya mereka menggunakan aji mumpung (cari pulihan,red) setelah menjabat. Namun sangat berbalik apa yang dilakukan Kades Karangjati itu, luar biasa,” jelas Mito Hadi kagum saat ditemui di kediamannya

http://www.infongawi.com/
Minggu, 19 Januari 2014
Wae Rebo : Rumah Kerucut Flores yang tersisa, It's a Paradise?

Wae Rebo : Rumah Kerucut Flores yang tersisa, It's a Paradise?

Di tengah dusun terdapat panggung batu yang dikisahkan telah dibina atas bantuan penunggu hutan yang berupa manusia gagah menawan yang mampu mengangkat batu besar dengan satu tangan. Masing-masing tangan dan kaki penunggu hutan ini memiliki jari berjumlah enam. Rambutnya dikisahkan sangat panjang dan parasnya cantik rupawan. Setelah panggung ini selesai, tarian caci digelar dan juga tabuhan gendang dilaksanakan (mbata).

Dari Ruteng, perjalanan dengan kendaraan selama 4 jam yang berkelok sehingga penumpang tak henti bergoyang. Sampailah di sebuah desa pesisir bernama Dintor. Jalan terus dilanjutkan menuju tanjakan ke pedalaman pulau menempuh pematang sawah dan jalan setapak di Sebu sebelum sampai di Denge. Dari Denge langkah terus dihentakkan melalui hutan kecil, melalui Sungai Wae Lomba.

Setelah mengatur kerja paru-paru di sepanjang jalan setapak, dari Ponto Nao, terlihat pusat Wae Rebo, sebuah dusun yang mengepul asap dari kerucut-kerucut aneh yang berkumpul di sebuah lapang hijau. Itulah sisa-sia mbaru niang yang hampir punah.

Perjalanan panjang menuju dusun ini membuat masyarakatnya sedikit terasing dari peradaban, terutama pendidikan dan kesehatan. Seorang anak bahkan dewasa dirata-ratakan telah berjalan kaki selama 4 jam sekali keluar dari dusunnya dan kembali membawa sesuatu seberat 15 kilogram untuk dijadikan bahan makanan cadangan karena terbatas sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan. Dalam satu tahun, diperhitungkan seorang anak akan membawa barang dengan total berat hingga 2 ton.

Tiba di dusun ini, sambutan hangat adalah sebuah keniscayaan. Ubi, talas, dan jagung akan disajikan termasuk daging ayam. Menginap di sana seperti sebuah mimpi berhari-hari. Ada kesan khusus dan tak akan tergantikan oleh perjalanan apapun, karena memang hanya satu kali pengalaman ini terjadi di Wae Rebo. Di sini semua berawal, dan akan terus berlanjut sebagai tanah tumpah darah warga Wae Rebo yang disebutkan dalam bahasa daerah sebagai Neka hemong kuni agu kalo.

THANK'S GOD

Sumber : www.indonesia.travel
Senin, 13 Januari 2014
Erwiyana Sulistiyaningsih : Nasib Pahlawan Devisa dari Ngawi

Erwiyana Sulistiyaningsih : Nasib Pahlawan Devisa dari Ngawi

Kronologi :

1)Nama Korban : Erwiyana Sulistiyaningsih 2)Alamat : Rt 05 Rw 03 Dusun Kawis Desa Pucangan Kecamatan Ngrambe Kabupaten Ngawi
3)Diberangkatkan oleh PT Graha Ayu Karsa, Tangerang
4)Agency:Chans Asia Recruitment Centre,
5)Majikan : Law Wan Tung, Block xx, Flat xx, Beverly Garden 1 Tong Ming Street Tsueng Kwan O Kwln HK





Kronologi berdasarkan penuturan saksi Rian ATKI :
Detik-detik terakhir menjelang masuk pesawat, Rian mengaku bertemu dan mencurigai kondisi korban. Melihat ada gelagat yang tidak beres serta kondisi fisik korban yang tidak wajar, Rian mendesak pengakuan korban mengenai apa yang terjadi. Kepada Rian, korban mengaku dipulangkan sekaligus di PHK secara sepihak. Korban mengaku sering dipukuli dan disiksa majikan. Namun saat hendak menawarkan untuk menyelesaikan secara hukum, saat itu korban yang secara psikis sangat tertekan, menolak. Korban hanya ingin segera pulang ke tanah air.


Selanjutnya, Rian membantu menolong korban sampai dengan masuk pesawat, dan berusaha untuk bisa tetap duduk mendampingi korban yang mengeluh sakit dan pusing. Mendarat di bandara Soeta, mereka melanjutkan penerbangan ke Solo. Lepastengah hari, dengan menumpang taksi, mereka bergegas menuju ke rumah/kampung halaman Erwiyana. Sesampai di rumah korban, Rian sempat memberi penjelasan kepada keluarga utamanya kepada kedua orang tua korban mengenai ihwal pertemuan mereka. 


Malam harinya, keluarga korban berinisiatif membawa korban ke sebuah rumah sakit islam amal sehat Sragen Jawa Tengah untuk mendapatkan perawatan.

Kronologi menurut penuturan korban Erwiana Sulistyaningsih:
Korban berangkat ke Hong Kong melalui jasa PT Graha Ayu Karsa yang memiliki kantor cabang di Ponorogo. Terbang ke Hong Kong pada bulan Mei 2013 setelah sebelumnya menunggu proses pemberangkatan selama 8 bulan di penampungan. 3 bulan di kantor cabang Ponorogo, dan 5 bulan di kantor pusat tanggerang.

Sejak pertama kali masuk ke tempat majikannya bekerja, korban sudah mencium gelagat kekerasan setiap hari. Setiap kesalahan selalu diselesaikan dengan hukuman kekerasan. Jika yang salah tangannya, yang dipukul tangannya, jika yang salah telinga, maka yang menjadi sasaran pemukulan adalah telinga. 


Rumah tempat dia bekerja dihuni oleh tiga orang saja yaitu; nyonya (majikan perempuan) dan kedua anaknya yang sudah remaja. Majikan laki-laki tidak pernah kelihatan. Nyonya majikan menurut korban adalah tipikalnya aneh, seperti memiliki penyimpangan kepribadian. Menuntut kesempurnaan yang tidak masuk akal, tidak punya perasaan dan mudah sekali melakukan kekerasan. 


Saat sebulan pertama korban bekerja di rumah tersebut, korban pernah sekali melarikan diri dengan pertolongan security gedung untuk mengadukan kondisinya ke agen. Di agen, korban dimediasi dengan majikan dan akhirnya kembali lagi ke rumah majikan. Sekembali ke rumah majikan, keadaan tetap tidak berubah.

Lebih parah lagi, saat kulit telapak kaki dan tangan korban mengalami pecah pecah akibat alergi dingin (musim dingin), majikan sama sekali tidak ada inisiatif untuk membawanya pergi berobat ke praktek dokter/rumah sakit. Hal tersebut membuat luka di telapak tangan dan kaki menmbulkan bau tidak sedap, dan bau tidak sedap tersebut menjadi biang bertambah parahnya penyiksaan terhadap korban. 


Tidak sedap di kaki, kaki langsung dipukul, tidak sedap di tangan, tangan langsung dipukul dengan apa saja terkadang gagang sapu, tongkat untuk menaik turunkan jemuran, gagang vacuum cleaner lantai. Terhadap luka tersebut, majikan memperlakukan korban dengan menutup rapat-rapat kaki dan tangannya agar tidak mengeluarkan bau. Namun perlakuan ini justru membuat luka korban menjadi semakin parah, bahkan infeksi.

Jam kerja korban selama bekerja di rumah tersebut sebanyak 21 jam, dengan waktu istirahat 3 jam saja selama 24 jam. Asupan makanan yang diberikan jauh dari cukup, bahkan menurut korban sangat kurang. Hal ini menurut korban membuat korban pernah sekali dengan terpaksa mencuri makanan lantaran kelaparan. Peristiwa mencuri makanan tersebut berbuntut pada penyiksaan yang lebih menyakitkan lagi.

Selama bekerja di rumah tersebut, korban belum pernah sama sekali menerima hak dia berupa gaji, jatah libur dan perlakuan yang layak. Korban pernah mempertanyakan hal tersebut, dan oleh majikan dijawab nanti saja kalau sudah habis masa kontrak seluruhnya akan dibayar, supaya bisa terkumpul. Korban hanya menurut saja.

Saat korban akan dipulangkan dengan tiba-tiba, dia diantar ke bandara oleh majikannya, dibelikan tiket kemudian didampingi sampai dengan benar-benar masuk ke dalam ruang tunggu setelah melakukan check in. Majikan berpesan kepada korban agar jangan mendekat ke kerumunan orang, jangan mau berbicara dengan orang lain, jangan menunjukkan gelagat yang mencurigakan. 


Kalau ada orang yang bertanya jawab dengan tidak tahu. Majikan mengancam korban, jika selama di perjalanan sampai dengan di rmah, korban bercerita macam-macam kepada siapapun, majikan korban dengan jaringannya akan membunuh kedua orang tua korban. Karena ancaman inilah korban mengaku sangat ketakutan saat bertemu dengan saksi Rian dari ATKI yang bertanya tentang kondisinya.

Saat bertemu saksi Rian, korban hanya membawa baju yang menempel di badan, sebuah tas jinjing kecil serta uang pecahan 100 ribu rupiah.

Hasil pemeriksaan medis :
Diagnosa sementara korban mengalami cellulitis akut tangan dan kaki dan bekas benturan benda tumpul.
Saat ini korban dirawat di rumah sakit islam amal sehat,Sragen Jateng.
Dokter yang menangani dokter Iman Fadli.

Sragen; 11 Januari 2014

Sumber: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=842140502467729&set=a.700775379937576.1073741826.700733133275134&type=1&theater
Copyright © 2012 RTi News All Right Reserved